Tampilkan postingan dengan label Putri India. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Putri India. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2024

Menelusuri Masa Lalu yang Menarik: Sejarah Korea dan Perkembangannya Hingga Kini

Menelusuri Masa Lalu yang Menarik: Sejarah Korea dan Perkembangannya Hingga Kini

Sejarah dan budaya dunia merupakan dua hal yang sangat erat terkait satu sama lain. Sejarah menjelaskan tentang apa yang terjadi pada suatu masa yang lalu dan budaya adalah ciri-ciri yang dimiliki oleh suatu kelompok masyarakat. Bagaimana sejarah mempengaruhi budaya dunia dan bagaimana budaya dunia berkembang seiring waktu adalah hal yang menarik untuk dipelajari dan diungkapkan.

Namun, dalam artikel ini kita akan membahas sejarah dan budaya dunia dari perspektif yang berbeda. Kita akan mengulas tentang beberapa fakta-fakta sejarah dan kebudayaan dunia yang mungkin tidak banyak diketahui oleh banyak orang. Dari kebiasaan makan, permainan, tilikan, dan bahkan kesenian, semuanya akan kita telusuri dan bahas dalam artikel ini dengan harapan dapat menambah wawasan kita tentang dunia di mana kita tinggal.

* Sejarah Korea


Sejarah dan budaya Orang Korea kuno

Orang Korea kuno memiliki sejarah yang kaya dan beragam. Wilayah Korea telah dihuni sejak zaman prasejarah, sekitar 500.000 tahun yang lalu. Orang Korea memiliki kebudayaan yang unik, bahasa yang khas, serta sistem tulisan yang berbeda dengan tulisan Cina. Selama ribuan tahun, kerajaan-kerajaan periode Baekje, Goguryeo, dan Silla adalah tiga kerajaan terbesar dan paling penting dalam sejarah Korea. Pada abad ke-7 dan 8, Silla berhasil menyatukan kedua kerajaan lainnya dan membentuk Kerajaan Silla Bersatu yang terus berdiri hingga beberapa ratus tahun ke depan. Namun, pada abad ke-10, Kerajaan Goryeo mengambil alih kekuasaan dan memerintah Korea selama tiga ratus tahun. Pada tahun 1392, Dinasti Joseon didirikan, yang menjadi dasar bagi pendirian sistem pemerintahan yang dikenal sebagai Hangeul, abjad Korea modern.



Salah satu aspek kebudayaan yang paling menarik dari Korea kuno adalah seni rupa, terutama keramik dan seni lukis. Keramik Goryeo terkenal dengan kecantikan dan kesederhanaannya yang khas dan jauh di masa depan Pantai Timur menjadi sumber inspirasi seniman dunia. Anda dapat melihat benda-benda keramik Goryeo saat ini di berbagai museum seni di seluruh dunia.



Selain keramik, seni lukis juga menjadi salah satu bentuk seni yang berkembang pesat di zaman Korea kuno. Seni lukis klasik Korea memiliki keunikan tersendiri dan berbeda dengan gaya lukis Cina yang lebih populer pada saat itu. Lukisan Korea memiliki ciri khas yang unik dengan penekanan pada warna-warna natural dan bentuk yang sederhana dan elegan. Salah satu karya seni terkenal dari masa itu adalah “Byeoljinga” karya pelukis terkenal Korea yaitu Kim Hong-do yang ditemukan pada era Dinasti Joseon yang menggambarkan kehidupan anak-anak dan orang dewasa di pedesaan Korea.


Baik seni rupa maupun sistem tulisan, bahasa, dan pola pikir masyarakat Korea kuno terus berkembang selama beberapa ratus tahun. Salah satu contohnya adalah pengembangan sistem tulisan Hangeul yang membuka akses bagi masyarakat umum untuk belajar membaca dan menulis, meningkatkan literasi dan memperkuat kebangkitan kebudayaan Korea.



Tradisi dan budaya juga merupakan bagian yang penting dari sejarah Orang Korea kuno. Salah satu contohnya adalah Hanbok, pakaian tradisional Korea. Hanbok telah digunakan oleh masyarakat Korea selama berabad-abad dan merupakan pakaian yang terus digunakan hingga saat ini. Bentuk dan bahan dari hanbok mencerminkan cerminan dari budaya Korea. Masyarakat Korea kuno juga gemar bermain musik tradisional seperti Gayageum dan Haegum.

Di era Korea Kuno, kelas sosial sangat menentukan dalam mempengaruhi budaya dan kebiasaan masyarakat. Masyarakat Korea kuno menghargai budi pekerti tinggi dan patuh kepada aturan baku, terutama dalam pergaulan dengan orang-orang yang lebih tua. Selain itu, mereka juga mempraktikkan konsep 'jeong' yang menggambarkan hubungan sosial yang menunjukkan rasa saling menghargai dan antusiasme antara seorang atau kelompok dengan orang lain.


Dalam hal pemerintahan, Korea kuno mengenal sistem pemerintahan yang diatur dan dibagi dalam tingkatan dalam masyarakat yang dikenal dengan 'gun-gan-gong-nobang' yang artinya adalah raja-yang tahu, menteri-yang bijaksana, bangsawan-yang setia, dan rakyat-yang berbakti. Sistem tersebut menjalankan suatu tindakan atau kebijakan yang diambil oleh raja dengan bantuan menteri dan bangsawan, di mana rakyat menjadi pelaksana dan pengikut aturan pemerintah.


Masyarakat Korea Awal


Sebelum periode kerajaan dan dinasti di Korea, wilayah ini telah dihuni oleh orang-orang selama ribuan tahun. Para arkeolog memperkirakan bahwa penduduk awal Korea berasal dari keturunan kelompok-kelompok pemburu-pengumpul di Asia Tenggara sekitar 40.000 tahun yang lalu. Mereka bermigrasi ke wilayah Korea sekitar 8.000 - 10.000 tahun yang lalu dan menjalin kehidupan yang harmonis dengan alam sekitar.


Pada permulaan zaman Neolitikum, sekitar 7.000 - 4.000 tahun yang lalu, masyarakat Korea awal mulai mengembangkan sistem pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dan mulai membentuk suku-suku dengan kekayaan budaya khasnya masing-masing. Banyak dari pola hidup penduduk awal Korea terkait dengan kemampuan mereka dalam bertahan hidup dari lingkungan sekitar. Mereka hidup dari kegiatan bertani, berburu dan memancing di sungai-sungai. Mereka juga mengandalkan kayu sebagai bahan untuk membangun rumah, kapal, dan perkakas sehari-hari. Banyak bukti-bukti materi barat seperti perak, tembikar dan arang kayu yang ditemukan dalam gundukan-gundukan puing-puing yang ditinggalkan oleh penduduk awal Korea, menunjukkan adanya perdagangan lintas negara lain di antara wilayah-wilayah mereka dari waktu ke waktu.


Kehidupan penduduk Korea awal pada dasarnya diatur oleh sistem sosial yang sangat berbeda dari apa yang kita kenal saat ini. Masyarakatnya hanya terdiri dari suku-suku kecil dan tidak ada sistem pemerintahan yang kompleks. Alih-alih, mereka menikmati masyarakat egalitarian dengan kepercayaan animistik dan kondusif untuk kehidupan berkelompok. Mereka mempercayai arwah, dewa-dewa alam, dan roh-roh leluhur begitu juga kepercayaan kekuatan alam. Para penduduk awal Korea percaya bahwa alam memiliki kekuatan gaib tertentu dan mereka melestarikan alam, serta kepercayaan tersebut jika alam dirusak atau dilanggar maka akan terjadi bencana kelaparan dan juga peristiwa-peristiwa yang tidak diinginkan.

Tidak banyak bukti-bukti tertulis dari zaman penduduk Korea awal, sehingga kita harus mengandalkan arkeologi, antropologi dan sejarah oral dalam mempelajari mereka. Sanget penting untuk memperhatikan sejarah lisan yang disampaikan dan dipelihara oleh kaum lansia dan kebiasaan tradisional yang masih dipraktikkan oleh masyarakat Korea modern. Dalam budaya tradisional Korea, banyak dari ritual dan keyakinan lama masih dipraktikkan hingga saat ini.


Penduduk awal Korea memiliki seni lukis dan ukir kayu yang sangat unik dan mempresentasikan kehebatan mereka sebagai perupa. Dengan membentuk kelompok-kelompok bekerja dari beragam keahlian pribadi, mereka bisa memproduksi batu ukir, kapak, panah dan barang-barang perunggu lain yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka juga membuat keramik dan pengikisan batu abstrak, yang merupakan salah satu seni rupa terawal di Asia Timur.


Secara keseluruhan, meskipun sedikit yang diketahui tentang penduduk awal Korea namun yang dapat dapat digali oleh para sejarawan dari artefak dan artefak yang ditemukan hingga saat ini, mendapat gambaran tentang gambaran masyarakat Korea yang miskin dan hidup bergantung pada alam dengan nilai-nilai yang mengutamakan keharmonisan dan kebersamaan. Pengaruh dari kebudayaan dan kepercayaan penduduk awal Korea juga melingkupi masyarakat dan kebudayaan Korea kuno yang mengikuti setelahnya. Tercatat dalam sejarah, kebudayaan dan seni-oranisasi Masyarakat Korea Kawasan Teluk merayakan tujuh puluh negara terbesar pada abad ke-6 hingga 7 sehingga mendorong berkembangnya kawasan tersebut.

Wanita India yang menjadi istri raja Korea kuno Kim Suro : Heo Hwang-Ok


Wanita India yang menjadi istri raja Korea kuno Kim Suro disebut juga dengan Heo Hwang-ok. Kisah cinta mereka menjadi legenda yang bercerita tentang bagaimana persahabatan antara dua negara dapat dimulai dari sebuah kisah cinta yang tak terduga.


Menurut legenda, pada abad pertama sebelum masehi, Heo Hwang-ok berlayar dari negaranya di India ke Korea dengan sebuah kapal dan akhirnya mendarat di Gaya, sebuah kota di Korea Selatan pada saat ini. Dia kemudian bertemu dengan Kim Suro, raja Gaya, dan jatuh cinta padanya.


Menurut catatan sejarah, Heo Hwang-ok menikah dengan Kim Suro dan menjadi ratu Korea pertama yang berasal dari luar negeri. Dia dikenal karena kecantikannya, kebijaksanaannya, dan dedikasinya terhadap rakyat Korea. Ia juga dikenal dapat berbicara beberapa bahasa termasuk bahasa Korea dan bahasa India.


Legenda mengatakan bahwa Heo Hwang-ok datang ke Korea membawa sebuah biji beras dan menanamnya di Gaya, di mana ia pertama kali mendarat. Bij tersebut kemudian tumbuh menjadi padang padi yang sangat subur, dan menjadi sumber utama beras di Korea Selatan.


Bahkan hingga saat ini, legenda cinta antara Heo Hwang-ok dan Raja Kim Suro masih dikenang oleh banyak orang di Korea. Pasangan tersebut dihormati karena membuka jalan bagi hubungan damai antara dua negara yang berbeda budaya. Pasangan tersebut mewarisi banyak karakter yang patut dicontohi, di antaranya saling percaya satu sama lain, memiliki tekad dan keberanian, serta kearifan lokal.


Namun, kisah Heo Hwang-ok terlihat lebih dari sekadar sebuah kisah cinta. Munculnya legenda tentang Heo Hwang-ok sebagai seorang wanita yang berasal dari India yang menikahi seorang raja Korea, menjadi simbol integrasi budaya dan perdagangan antara kedua bangsa.  Hubungan tersebut menjadikan India dan Korea memiliki ikatan yang sangat erat pada masa lalu, yang masih terus dijalin sampai sekarang.


Heo Hwang-ok mendapat tempat khusus sebagai simbol persahabatan yang kuat, baik di dalam maupun di luar negeri. Bahkan, sejumlah turis dari India masih mengunjungi Gaya sampai saat ini untuk membayar penghormatan kepada ratu India yang menjadi ratu Korea yang berjasa.

Sayangnya, tidak banyak diketahui tentang keturunan Heo Hwang-ok dan Raja Kim Suro setelah pernikahan mereka. Ada beberapa legenda dan cerita turun-temurun tentang keturunan mereka, tetapi kebenarannya tidak dapat diverifikasi secara historis.


Menurut legenda, Heo Hwang-ok dikabarkan melahirkan sepuluh anak, delapan putra dan dua putri. Mereka dikenal sebagai pendiri dari berbagai keluarga yang terkemuka di Korea Selatan saat ini. Beberapa keluarga tersebut di antaranya Park, Bak, Seonu, dan Kim.


Namun, sumber-sumber sejarah resmi Korea tidak mencantumkan banyak informasi tentang keluarga raja-raja Gaya, sehingga sulit untuk mengetahui kebenaran tentang keturunan mereka. Beberapa sumber mengatakan bahwa keturunan Heo Hwang-ok dan Raja Kim Suro mengalami kemunduran setelah invasi bangsa Jepang pada abad ke-16. Namun, sumber-sumber ini tidak dapat diverifikasi secara historis dan kebenarannya masih diperdebatkan.


Meskipun demikian, Heo Hwang-ok dan Raja Kim Suro dianggap sebagai tokoh-tokoh penting dalam sejarah Korea dan cerita cinta mereka tetap menjadi bagian penting dari tradisi lisan Korea Selatan. Kisah mereka menjadi simbol persahabatan antara India dan Korea serta menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk memperkuat hubungan damai antar-negara.


Kemiripan kata kata bahasa Korea dan India

Meskipun dua bahasa Korea dan India sangat berbeda dan berasal dari keluarga bahasa yang berbeda, ada beberapa kata-kata dalam bahasa Korea yang mirip dengan kata-kata dalam bahasa India. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh dan kontak antara kedua budaya pada masa lalu. Berikut adalah beberapa contoh kosakata bahasa Korea yang mirip dengan bahasa India:


Kimchi (김치): Makanan Korea yang terkenal ini merupakan jenis acar sayuran yang terbuat dari lobak, ketimun, dan kol yang difermentasi. Meskipun kata itu sendiri berasal dari bahasa Korea, asal-muasal proses fermentasi sayuran ini dipercaya sama dengan cara yang digunakan untuk membuat acar timun di India.


Hanbok (한복): Pakaian tradisional Korea, mirip dengan saree India. Keduanya memiliki potongan dan desain yang elegan dan sering digunakan untuk perayaan-perayaan khusus.


Guru (구루): Kata ini merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta yang berarti "guru" atau "pendeta". Kata ini digunakan dalam bahasa Korea untuk merujuk pada seorang guru, pelatih atau instruktur.


Geum (금): Merupakan kata bahasa Korea yang berarti emas, juga mirip dengan kata "gum" dalam bahasa Bengali, yang memiliki arti yang sama.


Bada (바다): Dalam bahasa Korea, kata ini berarti laut. Mirip dengan kata "bada" dalam bahasa Sanskerta yang juga berarti laut.


Seon (ì„ ): Merupakan kata bahasa Korea yang berarti meditasi. Mirip dengan kata "dhyana" dalam bahasa Sanskerta, yang juga berarti meditasi.


Meskipun ini hanya beberapa contoh, tapi kemiripan kosakata antara bahasa Korea dan India menyiratkan adanya kontak dan pengaruh antara kedua budaya pada masa lalu. Hal ini juga menunjukkan bahwa bahasa-bahasa di seluruh dunia sering memiliki keterkaitan dan pengaruh yang saling mempengaruhi satu sama lain.


Kesimpulan 

Melihat kembali sejarah Korea kuno, kita dapat mempelajari banyak sekali hal yang berharga mengenai kehidupan masyarakat Korea pada masa lampau. Perkembangan kebudayaan dan seni, sistem pemerintahan yang maju, serta kontribusi yang diberikan kepada dunia, semuanya adalah bagian dari sejarah Korea kuno yang harus dihargai. Walaupun masa lalu tidak dapat diubah, namun kita dapat mempelajari dari keberhasilan atau kegagalan yang terjadi di masa lalu sehingga dapat membantu kita untuk memperbaiki kehidupan di masa depan.


Korea tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kekayaan budaya Asia, dan selalu menarik minat orang-orang untuk mempelajarinya lebih lanjut. Semoga pengalaman yang kita peroleh dari mempelajari sejarah Korea kuno, dapat membawa manfaat yang positif bagi pengembangan budaya, ilmu pengetahuan, dan kemajuan manusia dimasa yang akan datang.

Artikel terkait terbit di Quora dengan judul yang sama , klik di sini.